Seorang narapidana kasus terorisme mencium bendera Merah Putih setelah mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (11/2/2026). ANTARA/Umarul Faruq

bongkah.id – Dua narapidana tindak pidana terorisme, ZY dan FA, mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Rabu (11/2/2026).

Seragam warga binaan yang mereka kenakan tampak sederhana, namun beban yang mereka pikul jauh dari kata ringan. Bagi sebagian orang, ikrar keduanya terdengar biasa, tetapi bagi mereka adalah langkah panjang untuk kembali.

ads

Suara keduanya sempat bergetar saat menyebut kata “setia”. Di kursi belakang, para petugas dan tamu undangan menyimak dalam diam.

Ada Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Yulius Sahruzah. Hadir pula perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA) Jawa Timur, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sidoarjo, Kementerian Agama Sidoarjo, serta unsur TNI dan Kepolisian setempat.

Namun di balik formalitas acara, pagi itu sejatinya adalah tentang pergulatan batin dua manusia.

“Ikrar setia kepada NKRI yang mereka ucapkan menjadi bentuk komitmen meninggalkan paham radikal yang sebelumnya mereka anut,” kata Kepala Lapas Kelas I Surabaya Sohibur Rachman.

ZY dan FA sebelumnya terafiliasi dengan kelompok radikal Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Pada 18 Desember 2025, keduanya dipindahkan dari Rumah Tahanan (Rutan) Depok ke Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo.

Perpindahan itu menjadi awal dari proses pembinaan intensif dalam program deradikalisasi.

Sejak tiba di Porong, hari-hari mereka berubah. Tidak lagi hanya diisi dengan rutinitas yang mekanis, tetapi juga sesi dialog, pendampingan keagamaan, dan pembinaan kebangsaan.

Petugas memulai dengan pengenalan lingkungan, lalu perlahan menata kondisi emosional dan intelektual mereka, hingga masuk pada tahap netralisasi, fase ketika doktrin lama dipertanyakan kembali, satu demi satu.

“Yang bersangkutan diberikan ruang untuk merenung, belajar, dan berinteraksi secara sosial dengan warga binaan lain yang memiliki latar belakang beragam. Pendekatan pembinaan yang humanis dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan menjadi titik balik dalam perubahan cara pandang mereka,” ujar Sohibur.

Di sela pembinaan, ZY dan FA mulai membuka diri. Percakapan tentang keluarga menjadi salah satu momen yang paling menyentuh.

Kerinduan kepada orang tua, istri, atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran mereka perlahan menghadirkan kesadaran baru, bahwa pilihan masa lalu tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga orang-orang terdekat.

Petugas lapas menyebut, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ada fase penolakan, diam panjang, hingga diskusi yang berjalan alot. Namun seiring waktu, keduanya mulai aktif dalam kegiatan pembinaan, berbaur dengan warga binaan lain, dan menunjukkan sikap kooperatif.

Ikrar setia yang diucapkan hari itu menjadi penanda formal dari proses panjang tersebut. Bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru: menjaga komitmen ketika kelak kembali ke masyarakat.

Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang terkunci, pagi itu menyisakan harapan sederhana. Bahwa setiap manusia, sejauh apa pun ia pernah tersesat, tetap memiliki kemungkinan untuk menemukan jalan pulang.

Dan negara, melalui pendekatan yang tegas sekaligus manusiawi, berupaya memastikan jalan itu tetap terbuka. (anto)

10

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini