Petugas SAR gabungan membawa kantong berisi jenazah korban kapal tenggelam di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (29/12/2025). (Foto: Ist).

bongkah.id — Senja itu, Pelabuhan Marina Labuan Bajo berubah hening. Suasana biasanya riuh dengan tawa wisatawan dari berbagai negara, kini sunyi, hanya dipecah oleh isak seorang perempuan. Ia berdiri tegak, wajahnya bercampur antara rasa syukur dan nestapa yang tak terperi.

Ia adalah Mar Martinez Ortuno, istri dari Fernando Martín Carreras, pelatih tim sepak bola perempuan Valencia CF B, yang menjadi salah satu korban dari tragedi kapal wisata KM Putri Sakinah yang tenggelam di perairan Pulau Padar, dekat Labuan Bajo.

ads

Kapal pinisi wisata itu karam pada malam 26 Desember 2025 saat membawa 11 penumpang, enam di antaranya warga negara Spanyol dan sisanya kru kapal serta pemandu lokal. Dalam hitungan menit, liburan keluarga yang seharusnya penuh kenangan indah berubah menjadi mimpi buruk tak terperi.

Kisah yang Tersapu Ombak

Menurut Basarnas dan pihak SAR setempat, kapal itu mengalami mati mesin saat berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar pada sekitar pukul 20.30 WITA. Gelombang yang tiba-tiba datang, arus kuat, dan mesin yang tak merespons membuat kapal tak lagi bisa dikendalikan.

Dari enam wisatawan asal Spanyol, sang istri dan satu putri kecil berhasil diselamatkan setelah tim SAR gabungan dan kapal lain yang melintas menangkapnya di tengah gelombang malam. Mereka ditemukan hidup namun trauma.

Namun tak semua keluarga puas dengan cerita selamat itu. Fernando Martín Carreras (44 tahun), ayah dari empat anak, saudara yang lain tak sempat selamat. Tim SAR berhasil menemukan jenazah putrinya pada 29 Desember, sekitar 900 meter dari lokasi kejadian, setelah nelayan setempat melaporkan serpihan kapal dan tubuh mengapung.

Kemudian jenazah Fernando ditemukan di perairan lebih jauh, diidentifikasi dari ciri khas celana merahnya. Selanjutnya jenazah kedua anak laki-lakinya juga ditemukan, sementara satu anak lain hingga kini belum ditemukan meski pencarian resmi sudah dihentikan setelah 15 hari intensif.

Suasana haru pecah ketika Mar Martinez, yang selamat bersama seorang putri bungsu, memeluk satu per satu petugas SAR Indonesia dalam dekapan yang penuh makna.

“Terima kasih, tim SAR. Kini aku pulang membawa mereka kembali bersamaku,” ucapnya dengan suara bergetar di depan media dan warga yang menyaksikan. Rasa terima kasih yang demikian tulus mencerminkan penghormatan tertinggi bagi para penyelamat yang bekerja siang malam dengan risiko tinggi.

Kritik pada Sistem Kepariwisataan Bahari

Insiden ini bukan sekadar cerita duka satu keluarga asing. Ia kembali menyoroti persoalan yang tertutup kilau wisata bahari Labuan Bajo.

Pulau Padar dan kawasan Taman Nasional Komodo menjadi magnet global, destinasi prioritas pariwisata Indonesia. Ribuan kapal bertolak setiap pekan dari pelabuhan kecil ini, membawa wisatawan menyusuri gugusan pulau, menyelam di perairan jernih, dan menyaksikan komodo di habitat aslinya.

Namun, di balik pesona itu, sistem keamanan maritim sering amburadul.

Lembaga terkait menyebutkan bahwa meskipun kapal wisata — termasuk KM Putri Sakinah telah menerima izin berlayar, inspeksi dan sertifikasi berkala terhadap keamanan kapal, pelatihan awak laut, serta kesiapan menghadapi cuaca ekstrem masih dipandang lemah.

Gelombang tinggi secara tiba-tiba di Selat Padar menjadi faktor utama tragedi malam itu, tetapi persoalan mendasar terkait standar keselamatan kapal wisata tetap menjadi sorotan para ahli.

Spekulasi soal unsur kelalaian kini masuk ke ranah hukum, aparat kepolisian setempat telah menetapkan dua tersangka, yakni kapten kapal dan seorang awak, dengan tuduhan kelalaian yang mengakibatkan kematian. Kedua tersangka dinyatakan dapat menghadapi hukuman hingga lima tahun penjara bila terbukti di pengadilan.

Sorotan kini tak hanya datang dari luar negeri, tetapi dari pelaku industri pariwisata lokal dan nasional. Kekhawatiran bahwa Labuan Bajo bisa kehilangan reputasi sebagai destinasi aman semakin nyata.

“Selama keselamatan bukan prioritas utama, kejadian serupa akan terus berulang,” kata seorang pengamat maritim. Banyak yang menilai bahwa prioritas pemasukan dan permintaan wisatawan yang tinggi sering kali mengalahkan standar keselamatan.

Reaksi pemerintah tampak mulai muncul. Menteri Pariwisata menegaskan akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan lembaga terkait untuk meningkatkan standar keamanan pelayaran dan pariwisata bahari, meskipun detail kebijakan masih disusun.

Di Mana Titik Baliknya?

Tragedi KM Putri Sakinah tak hanya menguras air mata istri dan kerabat yang kehilangan anggota keluarga. Ia juga membuka luka lama di industri pariwisata bahari Indonesia: antara mimpi indah dan tangis yang tertinggal di gelombang laut.

Bagi Mar Martinez, pulang ke Spanyol bukan sekadar perjalanan kembali, ia membawa buah hati, suami, dan kenangan yang kini hanya tersisa dalam doa.

Bagi Labuan Bajo, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana destinasi bernilai tinggi ini bisa tetap memikat tanpa menanggung terlalu banyak korban. (kim)

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini