bongkah.id — Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat 70 kasus keracunan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang Januari–September 2025. Akibatnya, sebanyak 5.914 penerima manfaat terdampak.
Berdasarkan data BGN, kasus keracunan paling banyak terjadi di Pulau Jawa dengan 41 kasus dan 3.610 korban. Sementara itu, Sumatra mencatat 9 kasus dengan 1.307 korban. Adapun 20 kasus lainnya terjadi di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan total 997 korban.
Temuan ini menunjukkan bahwa keracunan MBG merupakan persoalan berulang dan bukan kejadian insidental. Sebagai respons, BGN menutup sementara 112 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena dinilai melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP) dan berpotensi menyebabkan keracunan makanan. Meski demikian, jumlah tersebut hanya sekitar 0,97 persen dari total 11.592 SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia pada 2025.
Memasuki 2026, skala program MBG terus diperluas. Sebanyak 19.188 SPPG atau dapur MBG mulai beroperasi serentak sejak 8 Januari 2026, dengan target menjangkau sekitar 55,1 juta penerima manfaat di berbagai daerah.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan, 2025 menjadi periode penting untuk membangun fondasi layanan MBG. Pemerintah memanfaatkan tahun tersebut untuk memperkuat perencanaan, infrastruktur, serta sistem operasional di lapangan.
“Tahun 2025 kami gunakan untuk membangun fondasi yang kuat. Dari 190 SPPG di awal tahun hingga 19.188 SPPG di akhir tahun, ini menunjukkan kerja masif dan terukur dalam menyiapkan layanan MBG,” ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta. (anto)



























