Sosok Jamur Barat yang bernilai ekonomi tinggi untuk kuliner.

bongkah.id – Hujan di bulan Desember menetes pelan membasahi hutan kayu jati Dusun Banjarsari, Desa Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Bagi sebagian warga desa, musim barat atau musim hujan justru membuka pintu rezeki. Dengan keranjang bambu, warga menapaki jalan setapak yang licin menuju kebun dan hutan kecil, berburu harta tersembunyi: Jamur Barat.

Setiap langkahnya melewati tanah lembap yang tertutup daun gugur, setiap pandangannya menelisik di bawah batang pohon dan sarang rayap. Di sinilah Jamur Barat dan Jamur Trucuk menunggu untuk dipetik.

ads

Clitocybe Nebularis, yang oleh warga desa dikenal sebagai Jamur Barat, tumbuh besar dan bersahaja di tempat lembap dekat sarang rayap. Sedangkan Auricularia Polytricha, Jamur Trucuk, muncul bergerombol di bawah pohon bambu dan pinus, bagai mutiara gelap di antara dedaunan.

“Musim jamur barat biasanya mulai Desember sampai Februari. Kalau hujan deras disertai angin, hampir pasti ada jamurnya,” kata Julianto, warga desa Banjarsari sambil mengusap wajahnya yang basah karena gerimis menempel di rambutnya.

Keranjang bambu yang dibawanya kadang hanya terisi dua kilogram jamur, tapi di musim ramai bisa menampung tiga hingga empat kilogram. Dengan harga jual antara Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, perburuan ini bukan sekadar hobi, namun sumber penghidupan. “Yang kecil bisa sampai Rp100 ribu per kilo, yang besar biasanya Rp80–90 ribu,” tambahnya.

Jamur Barat bukan hanya soal uang. Ia adalah cerita yang hidup di tanah basah, sarang rayap, dan batang pohon lapuk. Ia adalah rasa yang menyatu dengan kehidupan desa. Jamur ini biasanya diolah menjadi semur, tumis kecap, atau sayur oseng.

“Bumbunya sederhana, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, gula, garam, sedikit merica. Tapi rasanya… hmm… semua tergantung selera,” ujar Sriati, penjual makan di sudut kota Jombang.

Masyarakat desa Banjarsari meyakini, Jamur Barat adalah jamur paling lezat. Rasanya kaya, gurih, dan bisa membuat satu porsi nasi terasa kurang. “Makan Jamur Barat, rasanya ingin terus menambah porsi. Nikmatnya sampai membuat ketagihan,” kata Sriati berpromosi.

Musim hujan bagi sebagian orang berarti basah dan repot. Tapi bagi warga Desa Banjarsari, musim barat adalah musim berkah. Dari tanah lembap, sarang rayap yang tersembunyi, dan batang pohon lapuk, ia menemukan penghasilan, rasa yang memikat, dan hubungan intim dengan alam yang hanya bisa dirasakan ketika hujan menetes pelan di desa setempat.

Setiap langkah, setiap jamur yang ia genggam, adalah saksi bisu sebuah kisah kecil tentang kerja keras, kesabaran, dan keajaiban alam desa. (anto)

10

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini