Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat Taklimat Media Refleksi 2025, Kebijakan 2026, Kamis (8/1/2026).

bongkah.id – Pemerintah memastikan buku Sejarah Indonesia edisi terbaru segera dirilis dan dapat diakses gratis oleh masyarakat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, versi digital buku yang ditulis 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi itu ditargetkan bisa diunduh publik paling lambat Februari 2026.

Ditegaskannya, negara tidak menulis sejarah, melainkan memberi ruang dan dukungan bagi para sejarawan untuk melakukannya. “Yang menulis adalah para sejarawan, bukan kementerian. Ini difasilitasi negara dan dibiayai APBN,” ujar Fadli dalam Taklimat Media Refleksi 2025, Kebijakan 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

ads

Buku tersebut direncanakan terbit dalam format digital dan dapat diunduh secara cuma-cuma dalam bentuk PDF melalui laman resmi Kementerian Kebudayaan serta berbagai platform lainnya. Bagi Fadli, akses terbuka adalah keniscayaan, mengingat buku ini dibiayai oleh uang negara dan tidak dimaksudkan untuk kepentingan komersial.

“Dalam bentuk PDF pasti gratis, karena ini dibiayai oleh APBN dan tidak diperjualbelikan. Pasti akan mudah untuk diakses,” katanya.

Sementara itu, versi cetak akan diproduksi secara terbatas dan didistribusikan ke Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah, serta perguruan tinggi. Langkah ini ditempuh agar referensi sejarah nasional tetap hadir secara fisik di ruang-ruang akademik dan literasi publik.

Tak berhenti pada sejarah nasional, pemerintah juga menyiapkan penulisan buku sejarah tematik mulai 2026. Sejumlah periode dan peradaban besar, seperti Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai, hingga perang mempertahankan kemerdekaan, akan diulas secara lebih mendalam dan khusus.

Fadli menargetkan, versi digital Sejarah Indonesia sudah dapat diakses publik paling lambat Februari 2026. Saat ini, naskah masih berada di tahap akhir penyuntingan dan alih media oleh tim editor.

Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Agus Mulyana, menilai pembaruan ini sebagai kebutuhan mendesak. Ia mengingatkan, penulisan sejarah nasional terakhir telah berlalu hampir 13 tahun silam. “Saya kira ini perlu kita tulis, karena ini kan hampir 13 tahun yang lalu terakhir. Kita perlu merekonstruksi lebih komprehensif tentang perjalanan sejarah Indonesia,” ujarnya dalam dialog bersama Pro3 RRI, Kamis (8/1/2026).

Di tengah arus informasi yang kerap terpecah dan ingatan yang mudah kabur, kehadiran buku ini diharapkan menjadi jangkar pengetahuan, sebuah rujukan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus milik bersama seluruh warga bangsa. (anto)

11

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini