bongkah.id – Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika keberhasilan justru terasa amat berat untuk dirayakan. Bukan karena ia tak layak diraih, melainkan karena di balik kesuksesan tersimpan kisah pengorbanan yang terlalu besar untuk sekadar disebut kenangan. Itulah yang dihayati Prof. Sarjiya, ketika berdiri di podium pengukuhan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Di hadapan sivitas akademika, para kolega dan keluarga, suaranya mendadak bergetar. Kalimatnya terhenti. Matanya berkaca-kaca. “Maafkan aku, adikku.”
Setahun silam, kata-kata itu bukan retorika akademik, bukan pula formalitas seremoni. Ia lahir dari ruang terdalam nurani seorang kakak yang sepanjang hidupnya memikul satu utang batin: utang pada adiknya, Suparsih, yang harus merelakan mimpinya sendiri demi masa depan sang kakak.
“Secara khusus saya mohon maaf kepada adikku, Suparsih,” ucap Sarjiya pelan namun tegas, “yang waktu itu terpaksa tidak bisa melanjutkan ke bangku SMA, meskipun nilai ujian SMP-nya sangat baik, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan membiayai kami berdua secara bersamaan.”
Di ruangan itu, ilmu pengetahuan seakan menepi. Yang tersisa hanyalah kemanusiaan: tentang cinta, pengorbanan, dan pilihan hidup yang tak pernah tercatat di ijazah mana pun.
Keluarga Kecil, Impian Besar
Sarjiya lahir 52 tahun silam di Lendah, Kulon Progo, dari keluarga yang jika disebut sederhana, sebutan yang masih terasa terlalu halus.
Ayahnya, Pujidiyono, adalah buruh pembuat gamping—pekerjaan berat dengan penghasilan yang nyaris selalu habis sebelum sempat disimpan.
Ibunya, Sumirah, berjualan gula jawa, memanggul dagangan dari rumah ke rumah, dari kampung ke sudut kota Yogyakarta.
Keduanya tidak pernah merasakan bangku sekolah. Huruf dan angka mereka kenal dari kehidupan, bukan dari papan tulis.
Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh keberanian yang jarang dimiliki orang berkelimpahan: keberanian untuk bermimpi. Mereka tahu biaya sekolah bukan perkara kecil.
Mereka sadar setiap keputusan akan selalu menuntut pengorbanan. Dan pada satu titik, pilihan paling pahit pun harus diambil. Hanya satu anak yang bisa terus melanjutkan pendidikan.
“Bapak dan Ibu berani membuat keputusan besar,” kenang Sarjiya, “mengizinkan dan membiayai saya melanjutkan sekolah, meskipun itu berarti mengorbankan pendidikan adik saya.”
Tak ada perdebatan panjang. Tak ada drama. Suparsih menerima keputusan itu dengan diam—diam yang sarat makna. Bagi Sarjiya, itulah diam yang paling nyaring sepanjang hidupnya.
Batu-Batu Pondasi yang Tak Pernah Tampak
Sarjiya menempuh pendidikan dari SDN Pengkol, SMP Brosot, hingga SMAN 1 Teladan Yogyakarta. Setiap langkahnya bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga akumulasi keringat keluarga. Seperti struktur candi, keindahan puncaknya berdiri kokoh bukan karena satu batu, melainkan karena ribuan batu di bawahnya yang rela memikul beban tanpa pernah terlihat.
Dari bangku SMA itulah jalannya terbuka menuju Teknik Elektro UGM. Lalu gelar magister diraih di kampus yang sama. Perjalanannya menembus batas negeri saat ia melanjutkan studi doktoral di Chulalongkorn University, Thailand.
Namun semakin tinggi ia melangkah, semakin berat pula rasa yang ia pikul. Setiap prestasi selalu diiringi satu wajah yang terlintas, wajah adiknya yang berhenti sekolah agar kakaknya bisa terus berjalan.
“Semoga pengorbanan adikku,” ucapnya lirih, “mendapat imbalan kebaikan yang lebih banyak dari Tuhan Yang Maha Esa.”
Hari Ketika Ilmu Menunduk pada Ibu
Di Balai Senat UGM, setelah menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Integrasi Variable Renewable Energy dalam Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga Listrik Menuju Transisi Energi Berkelanjutan, Sarjiya tidak langsung menerima ucapan selamat. Ia justru berjalan menghampiri ibunya.
Di hadapan Sumirah, perempuan sederhana yang tak pernah mengenal teori listrik, apalagi energi terbarukan, Sarjiya bersujud. Tubuhnya merendah, ilmunya luruh, gelarnya lenyap. Yang tersisa hanyalah seorang anak.
“Maturnuwun, Bu.”
Pelukan itu lebih kuat dari tepuk tangan mana pun. Tangis itu lebih jujur dari pidato akademik setebal apa pun.
Ia lalu menyalami keempat saudari perempuannya, satu per satu, termasuk Suparsih— perempuan yang hari itu berdiri dengan senyum bangga, menyaksikan mimpinya sendiri menjelma keberhasilan sang kakak.
Pelajaran yang Tak Pernah Tertulis di Buku
Kisah Prof. Sarjiya adalah pengingat bahwa keberhasilan tidak pernah sepenuhnya milik individu. Ia adalah hasil dari keputusan-keputusan sunyi, dari cinta yang rela mengalah, dari keluarga yang memilih mendahulukan masa depan ketimbang kenyamanan hari ini.
Dalam keterbatasan, keluarga Sarjiya menjadikan pendidikan sebagai cahaya.
Dalam kemiskinan, mereka menanam keyakinan bahwa satu anak yang berhasil bisa menjadi harapan bagi banyak orang. “Saya hanya berharap,” kata Sarjiya, “apa yang saya capai ini menjadi kebanggaan keluarga dan memberi manfaat seluas-luasnya.”
Kini, sebagai Guru Besar UGM, Sarjiya bukan sekadar simbol kesuksesan akademik. Ia adalah monumen hidup tentang bagaimana batu-batu pengorbanan yang tak terlihat justru menopang puncak tertinggi peradaban manusia. Bahwa dari keluarga yang nyaris tak memiliki apa-apa, bisa lahir seseorang yang memberi arti bagi banyak orang.
Dalam hidup, terkadang yang paling mulia bukanlah mereka yang berdiri di puncak, melainkan mereka yang rela menjadi pondasinya. (kim)




























