bongkah.id – Panen Raya dan swasembada pangan di Karawang, Rabu (7/1/2026), diwarnai pengumuman besar tentang tangan besi negara yang akhirnya turun ke ladang. Adalah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berdiri di hadapan para petani, pejabat, dan Presiden Prabowo Subianto. Suaranya tegas, nyaris tanpa jeda, seolah tak ingin memberi ruang pada tawar-menawar.
Dengan lantang, Menteri Andi Amran menyebut sebanyak 2.300 izin distributor pupuk di seluruh Indonesia telah dicabut. Tidak menunggu rapat panjang, tidak menunggu belas kasihan. Satu tombol ditekan, dan izin itu lenyap. “Kadang kami dibilang kejam,” kata Amran, dengan nada yang tak meminta simpati. “Begitu ada yang mainkan harga di atas HET, langsung kita cabut izinnya, hari itu juga.”
Pupuk, yang selama ini menjadi nadi produksi pangan, terlalu sering berubah menjadi alat permainan. Harga melambung, petani menjerit, dan sawah-sawah terancam kehilangan harapan. Bagi Amran, tak kenal kompromi. Maka kebijakan pun diambil seperti sabit yang tajam, cepat, dan tak bertele-tele, dengan mencabut izin distributor yang memainkan HET.
Namun cerita hari itu tidak berhenti pada distributor. Di balik meja birokrasi, penyelewengan juga disingkapnya. Sebanyak 192 oknum pejabat, baik di dalam maupun di luar Kementerian Pertanian, dicopot, dipecat, bahkan diseret ke proses hukum. Mereka yang menyimpang tak lagi diberi ruang untuk bersembunyi di balik jabatan.
“Kinerja yang tidak patuh dan menyimpang pasti kami copot. Tidak ada toleransi,” tegas Amran.
Di antara deru tepuk tangan, ia menyebut nama-nama institusi penegak hukum. Polisi dan kejaksaan disebut bukan sebagai simbol, melainkan sebagai mitra yang bergerak nyata. Menurutnya sudah ada 76 tersangka. Mereka akan menyimpan cerita dengan jeruji kurungan, berkas perkara, dan berakhirnya kekuasaan yang disalahgunakan.
Panen raya hari itu bukan hanya tentang bulir padi yang menguning. Ia menjadi penanda bahwa swasembada pangan tidak dibangun dari slogan semata, melainkan dari keberanian membersihkan rantai distribusi dan birokrasi yang buruk. Negara, dalam narasi Amran, hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai penjaga timbangan keadilan bagi petani.
Di Karawang, Menteri Andi Amran mengingatkan bahwa pangan adalah soal hidup orang banyak, dan siapa pun yang mempermainkannya, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan tangan negara yang tak lagi ragu untuk menuntaskan perkaranya. (anto)




























