Ketiadaan sistem pencegahan membuat negara terus membayar mahal ongkos pengobatan penyakit penyerta dari diabetes hingga penyakit jantung yang berakar pada kelebihan berat badan.

bongkah.id – Tingginya penderita obesitas di Indonesia diam-diam ikut mengerek beban kas negara. Obesitas tak lagi sekadar urusan pola makan dan gaya hidup, melainkan persoalan struktural yang menggerogoti sistem jaminan kesehatan. Ketika defisit BPJS Kesehatan menembus angka Rp9,6 triliun, alarm bahaya pun berbunyi. Dan dari ruang-ruang laboratorium Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sebuah gagasan lahir sebagai respons untuk penderita obesitas.

Tim SGREEFIT, sekumpulan mahasiswa dengan kepedulian pada kesehatan publik, merancang sistem penanganan obesitas yang tak biasa. Mereka tak menawarkan pil ajaib atau wacana normatif, melainkan sebuah ekosistem: menghubungkan layanan kesehatan, teknologi digital, dan pusat kebugaran dalam satu napas kebijakan.

ads

“Selama ini Indonesia belum punya sistem yang benar-benar fokus menekan obesitas,” ujar Muhammad Rafi Kalevi, anggota tim Research and Development SGREEFIT. Mahasiswa yang akrab disapa Levi itu menyebut, ketiadaan sistem pencegahan membuat negara terus membayar mahal ongkos pengobatan penyakit penyerta dari diabetes hingga penyakit jantung yang berakar pada kelebihan berat badan.

Angkanya mencengangkan. Dengan defisit BPJS mencapai Rp9,6 triliun, SGREEFIT menghitung bahwa jika prevalensi obesitas dapat ditekan hingga 35 persen, potensi penghematan anggaran negara bisa mencapai Rp10,5 triliun. “Itu bukan hanya menutup defisit, tapi juga mengubah arah kebijakan kesehatan kita,” kata Levi.

Gagasan SGREEFIT bertumpu pada integrasi Mobile JKN dengan pusat kebugaran. Dalam skema ini, pasien obesitas tak lagi berhenti di meja resep dokter. Setelah konsultasi medis, mereka akan menerima rekomendasi aktivitas fisik yang dipersonalisasi dan diarahkan ke gym yang telah bermitra dengan BPJS. Tubuh pasien menjadi subjek pemulihan aktif, bukan sekadar objek pengobatan.

Teknologi Internet of Things (IoT) menjadi tulang punggung konsep smart gym yang mereka usung. Setiap gerak, setiap progres, dipantau secara real-time. Agar peserta tak menyerah di tengah jalan, SGREEFIT menyelipkan unsur gamifikasi: poin, voucher, dan sistem penghargaan bagi mereka yang konsisten.

“Kami ingin olahraga terasa seperti kebutuhan, bukan hukuman,” ujar Levi. Motivasi, menurutnya, adalah mata uang terpenting dalam perubahan perilaku. Secara konseptual, sistem ini berpijak pada Theory of Planned Behavior (TPB), sebuah pendekatan psikologi yang menekankan bahwa niat dan perilaku sehat lahir dari kemudahan akses serta dukungan lingkungan. Karena itu, SGREEFIT dirancang agar sejalan dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di bawah Kementerian Kesehatan.

Namun jalan menuju implementasi nasional tak bisa ditempuh sendirian. Levi menyadari perlunya orkestrasi lintas sektor, dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, ahli gizi, hingga praktisi sport science. Semua itu telah mereka rangkum dalam sebuah policy brief, sebagai tawaran konkret bagi pembuat kebijakan.

Di bawah bimbingan dosen Alfan Purnomo, terobosan ini telah diuji di panggung nasional. SGREEFIT meraih medali perak pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-38 tahun 2025 sebagai sebuah pengakuan atas gagasan yang memadukan sains, teknologi, dan kebijakan publik.

Lebih dari sekadar prestasi lomba, proyek ini menyimpan harapan besar: menjadi bagian dari pencapaian Sustainable Development Goals sekaligus penopang keberlanjutan sistem kesehatan nasional. “Kami ingin ini tidak berhenti di kompetisi,” tutur Levi. “Tapi benar-benar menjadi solusi nyata menyehatkan masyarakat dan menyelamatkan anggaran negara.”

Di tengah krisis yang kerap melahirkan pesimisme, SGREEFIT menawarkan kemungkinan lain bahwa perubahan bisa dimulai dari kampus, dari ide-ide muda, dan dari keberanian melihat kesehatan sebagai investasi, bukan beban. (anto)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini