Kayu gelondongan pasca banjir Sumatera.

bongkah.id – Air bah itu datang tanpa pamit. Dari hulu pegunungan hingga muara sungai, banjir dan longsor menggulung apa saja yang dilewatinya—rumah, ladang, dan ratusan batang kayu yang tercerabut dari tanah asalnya.

Sejak pertengahan November 2025, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan kisah yang sama: kayu-kayu gelondongan teronggok di jalan, halaman rumah, bahkan di depan sekolah-sekolah yang sunyi.

ads

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, deru 28 alat berat memecah pagi. Hari ke-16 pasca-bencana, petugas dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan masih berjibaku membersihkan sisa banjir. Kayu-kayu besar yang dahulu berdiri tegak di rimba kini harus diangkat satu per satu dari badan jalan dan permukiman warga.
“Kami memprioritaskan akses,” kata Subhan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).

Baginya, kayu bukan sekadar batang mati. Di balik seratnya, ada peluang hidup bagi warga yang kehilangan rumah. Hingga awal Januari 2026, tercatat 300 batang kayu dengan volume 469,26 meter kubik telah dikumpulkan. Kayu yang masih layak dipilah, didata, dan disiapkan untuk kebutuhan darurat.

Dari kayu-kayu itu, hunian sementara (huntara) mulai berdiri. Dua unit tengah dibangun, satu lainnya sudah rampung. Di tengah puing dan lumpur, kayu hanyutan berubah rupa, dari sisa bencana menjadi penopang harapan.

Di Sumatera Utara, cerita serupa berlanjut di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan. Sungai Garoga yang sempat meluap kini dinormalisasi. Dua puluh alat berat dan sepuluh dump truck bekerja tanpa jeda, memilah kayu, membersihkan rumah warga, dan menata kembali lingkungan yang porak-poranda.

“Kami bergerak seiring dengan penyiapan hunian,” ujar Novita Kusuma Wardani, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara. Dari wilayah Garoga saja, terkumpul 426 batang kayu bulat dengan volume 253,85 meter kubik, ditambah kayu gergajian yang tak sedikit jumlahnya. Semua dicatat tak satu pun dibiarkan tanpa jejak.

Sementara itu, di Sumatera Barat, laut dan sungai turut menyimpan cerita kayu hanyut. Di Pantai Padang, di sepanjang Daerah Aliran Sungai Batang Kuranji dan Sungai Air Dingin, petugas Unit Pelaksana Teknis Kemenhut, Kesatuan Pengelolaan Hutan, dan Dinas Kehutanan Provinsi menyisir material sisa banjir. Pendataan masih berlangsung.

“Kami masih menghitung jumlah dan jenis kayu,” kata Hartono, Kepala BKSDA Sumatera Barat. Data itu kelak menjadi dasar pemanfaatan, setelah tim resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur. Tak ada yang tergesa. Semua harus tertib.

Di balik kerja teknis dan angka-angka volume, ada kebijakan yang membuka jalan. Kemenhut telah mengizinkan warga memanfaatkan kayu hanyutan untuk pemulihan pasca-bencana. Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Laksmi Wijayanti, menegaskan bahwa kayu itu boleh digunakan untuk membangun rumah, fasilitas, dan sarana prasarana. “Ini langkah kemanusiaan,” ujarnya.

Namun kemanusiaan tetap berjalan beriringan dengan hukum. Kayu hanyutan dikategorikan sebagai kayu temuan, harus legal, terlacak, dan tidak disalahgunakan. Semua proses tunduk pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Di tanah yang masih basah oleh air bah, kayu-kayu itu kini tak lagi menjadi penghalang jalan. Ia menjadi tiang, dinding, dan atap sebagai penanda bahwa dari sisa-sisa bencana, kehidupan perlahan disusun kembali. (anto)

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini