Buku karya Komunitas Sidoarjo Masa Kuno yang siap dilaunching.

bongkah.id – Dalam dunia kesejarahan, media keras seperti prasasti adalah sumber data yang tak tergantikan. Dari sanalah para peneliti menelusuri masa pemerintahan raja-raja, sistem kepercayaan, penanggalan, hingga struktur birokrasi yang menopang kehidupan masyarakat kuno.

“Prasasti memberi kita bukan hanya makna, tetapi juga detail tentang siapa berkuasa, di mana batas wilayah, dan bagaimana masyarakat diatur,” kata dr H. Sudi Haryanto, Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, yang juga penyusun buku Kumpulan Prasasti dan Inskripsi Pendek Sidoarjo.

ads

Buku setebal 200 halaman ini akan dilauncing pada Minggu (11/1/2026) jam 09.00 WIB di Departemen Kebudayaan, Dekesda, Jalan Erlangga 6, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam buku itu, Sudi memaparkan prasasti Waharu Kuti (762 Saka) yang ditemukan di Dusun Joho, Desa Kebonanom, Kecamatan Gedangan, di masa Kerajaan Medang, hingga cerita Prasasti Kaladi berangka tahun Saka 831 atau Masehi 909, berasal dari masa Mataram Kuno yang ditemukan di area Gunung Penanggungan.

Ribut Wijoto, Ketua Dewan Kebudayaan Dekesda, menyatakan buku ini merupakan kerja bareng komunitas Sidoarjo Masa Kuno (SDMK) dengan Departemen Kebudayaan Dekesda.
“Sekaligus kado untuk Hari Jadi Sidoarjo,” katanya.

Menurutnya, Sidoarjo adalah pusat pemerintahan dan pusat peradaban nusantara di kisaran seribu tahun lalu.

Di sisi lain, dalam peta administrasi modern, memang Sidoarjo tergolong muda. Kabupaten ini resmi dibentuk pada Mei 1859 oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Namun sejarah tidak selalu mengikuti garis birokrasi. Sebagai wilayah, Sidoarjo jauh lebih tua dari akta kelahirannya. Ia telah hadir sejak masa klasik Hindu-Buddha, sebuah kenyataan yang dibuktikan oleh temuan prasasti-prasasti yang berasal dari wilayah setempat atau setidaknya menyebut nama-nama tempat yang kini berada dalam batas Kabupaten Sidoarjo.

“Buku ini merupakan kumpulan tulisan para ahli dari berbagai sumber. Ia adalah upaya merajut kembali kepingan-kepingan sejarah yang lama tersembunyi di balik tanah, batu, dan aksara kuno. Sebuah ikhtiar kolektif untuk membaca ulang masa silam, agar masa kini tidak kehilangan pijakan,” pungkas Sudi. (anto)

57

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini