Polisi melaporkan, sekitar 40 orang tewas dan sedikitnya 100 lainnya luka-luka, sebagian besar dalam kondisi serius.

‎bongkah.id – Perayaan pergantian Tahun Baru 2026 yang seharusnya dipenuhi suka cita berubah menjadi duka mendalam di Swiss.

‎Sebuah kebakaran hebat melanda bar resor ski mewah Le Constellation di kawasan Crans-Montana, Swiss selatan, menewaskan sedikitnya 44 orang dan melukai lebih dari 100 korban, sebagian besar dengan luka bakar serius.

‎Insiden tragis itu terjadi sekitar pukul 01.30 waktu setempat, Kamis (1/1/2026), saat bar dipadati pengunjung yang tengah merayakan malam tahun baru. Dentuman keras dilaporkan terdengar sebelum api dengan cepat membesar, memicu kepanikan massal di dalam bangunan.

‎Puluhan unit pemadam kebakaran, ambulans, serta helikopter evakuasi dikerahkan sepanjang malam. Namun, cepatnya penyebaran api membuat proses evakuasi berlangsung sangat sulit. Kepolisian setempat menyebut jumlah pasti orang yang berada di dalam bar saat kejadian masih belum dapat dipastikan.

‎“Api menyebar sangat cepat. Prioritas kami saat ini adalah identifikasi korban agar jenazah dapat segera dikembalikan kepada keluarga,” ujar Kepala Kepolisian Valais, Frédéric Gisler.

‎Korban Lintas Negara, Rumah Sakit Penuh

‎Tragedi ini berdampak lintas negara. Korban berasal dari berbagai kewarganegaraan, termasuk Italia dan Prancis. Pemerintah Italia melaporkan 16 warganya masih hilang, sementara belasan lainnya dirawat intensif, sebagian telah dievakuasi ke Milan. Prancis juga mengonfirmasi delapan warganya belum ditemukan.

‎Sebanyak 115 korban luka dilaporkan dirawat di sejumlah rumah sakit di Swiss, termasuk di Sion, Lausanne, Zurich, dan Jenewa. Banyak di antaranya mengalami luka bakar tingkat tiga dan gangguan pernapasan akibat menghirup asap beracun.

‎“Sebagian luka bakar bersifat internal karena panas yang sangat intens. Banyak korban masih berusia muda, antara 15 hingga 25 tahun,” ungkap Robert Larribau, seorang dokter di Jenewa.

‎Gubernur Valais, Mathias Reynard, menyatakan unit perawatan intensif telah mencapai kapasitas maksimal, dan proses penanganan korban diperkirakan akan berlangsung lama serta menyakitkan bagi keluarga.

‎Bukan Serangan, Dugaan Kembang Api

‎Jaksa Agung Swiss, Beatrice Pilloud, menegaskan tidak ada indikasi bahwa insiden ini merupakan serangan teror. Otoritas memperlakukan peristiwa tersebut sebagai kecelakaan, meski penyelidikan penuh tetap dilakukan.

‎Sejumlah hipotesis dikaji, termasuk dugaan bahwa kebakaran dipicu kecelakaan kembang api yang digunakan dalam perayaan Tahun Baru. Area Crans-Montana ditutup total dan ditetapkan sebagai zona larangan terbang untuk mendukung penyelidikan dan proses identifikasi korban.

‎Presiden Swiss, Guy Parmelin, menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tragedi terburuk dalam sejarah negaranya.
‎“Apa yang seharusnya menjadi momen kegembiraan berubah menjadi duka yang menyentuh seluruh negeri, bahkan melampauinya,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

‎Kontras Perayaan Tahun Baru Dunia

‎Tragedi di Swiss ini terjadi di tengah kebijakan ketat perayaan Tahun Baru di sejumlah wilayah lain, termasuk di Indonesia.

‎Pemerintah Kota Mojokerto, misalnya, meniadakan seluruh aktivitas hiburan malam dan melarang pesta kembang api demi menjaga ketertiban dan keselamatan publik.

‎Namun, di Crans-Montana, pesta yang semula gemerlap justru berakhir dengan bau asap, bangunan hangus, dan suasana berkabung. Kawasan ski elite yang biasanya semarak wisatawan kini terbangun dengan duka mendalam, menjadi pengingat pahit bahwa euforia perayaan dapat berubah seketika menjadi tragedi kemanusiaan. (kim)

9

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini