Musyawarah DPC HPI Surabaya menetapkan Agustina Sutiarini sebagai Ketua DPC HPI Surabaya tahun 2025–2030. Ketua baru sedang berpose bersama Herlambang dari Disbudpora Surabaya.

‎bongkah.id – Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) kembali menegaskan komitmennya pada regenerasi dan penguatan peran pemandu wisata melalui Musyawarah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Surabaya yang digelar di Gedung Siola, Surabaya, Sabtu (3/1/2025).

‎Forum demokratis tersebut menetapkan Agustina Sutiarini sebagai Ketua DPC HPI Surabaya untuk masa bakti 2026–2030. ‎Pemilihan berlangsung terbuka dan partisipatif. Dari dua kandidat yang maju, Agustina meraih 34 suara, unggul signifikan atas Faizal yang memperoleh 8 suara.

‎Kemenangan ini menandai kepercayaan besar anggota terhadap sosok yang sebelumnya dikenal aktif dan konsisten menguatkan organisasi dari posisi bendahara.

‎Ketua DPD HPI Jawa Timur, Pram Sujai Asmed, menegaskan bahwa pergantian kepengurusan merupakan bagian penting dari dinamika demokrasi organisasi.

‎Menurutnya, regenerasi bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan momentum untuk menyegarkan visi dan memperkuat kapasitas pramuwisata di tengah tantangan pariwisata yang kian kompleks.

‎Agustina menyambut amanah tersebut dengan refleksi mendalam. Ia menilai keterpilihannya sebagai ruang pengabdian yang lebih luas, terutama untuk membimbing anggota-anggota baru.

‎“HPI terus bertumbuh. Tugas kami yang senior adalah memastikan kader muda berkembang, profesional, dan percaya diri menghadapi wisatawan dari berbagai latar belakang,” ujarnya.

‎Asmed menambahkan, tantangan pramuwisata di Surabaya tidak ringan. Kota ini menjadi pintu sejarah, perdagangan, dan budaya, sehingga pemandu dituntut selalu memperbarui pengetauan.

‎“Wisatawan yang kita dampingi umumnya berwawasan bagus. Pramuwisata harus selangkah lebih siap, lebih dalam pemahamannya,” tegasnya.

Di Jawa Timur, tercatat sekitar 420 anggota, sekitar 75 orang aktif tersebar di Surabaya, Sidoarjo, dan Malang Raya.

‎Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Herlambang, perwakilan Disbudpora Kota Surabaya, mendorong HPI untuk aktif menyusun program edukasi peningkatan kapasitas anggota. Ia membuka ruang kolaborasi dan pemanfaatan fasilitas yang tersedia demi kemajuan pramuwisata.

‎Sejarah HPI

‎Dalam konteks yang lebih luas, HPI bukan sekadar organisasi profesi. Didirikan pada 27 Maret 1983 melalui Konvensi Himpunan Duta Wisata Indonesia di Kuta, Bali, dan resmi berganti nama menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia pada Konvensi Kedua di Palembang tahun 1988, HPI telah lama menjadi wadah resmi pemandu wisata berlisensi di Indonesia.

‎Sebagai organisasi non-profit dan non-politik, HPI mengemban misi mulia, mengikat, melindungi, dan mempromosikan pramuwisata sebagai duta negara.

‎Di Jawa Timur, tercatat sekitar 420 anggota, sekitar 75 orang aktif tersebar di Surabaya, Sidoarjo, dan Malang Raya.

‎Agustina menegaskan bahwa pramuwisata adalah wajah pertama Indonesia di mata dunia. “Mereka adalah ujung tombak citra bangsa. Dari tutur kata, sikap ramah, keluasan pengetauan, hingga kejujuran, semua melekat sebagai kesan tentang Indonesia,” tuturnya.

‎Di tangan kepengurusan baru, HPI Surabaya diharapkan mampu melahirkan pramuwisata yang tidak hanya piawai bercerita, tetapi juga mencerminkan kebaikan budi, keramahan, dan kecerdasan sosial masyarakat Indonesia.

‎Sebuah diplomasi kultural yang bekerja senyap namun berdampak luas bagi citra bangsa. (kim)

ads
23

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini