bongkah.id – Di tengah riuh persoalan sampah yang kian mendesak, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyiapkan satu langkah yang tak sekadar teknis, tetapi juga sarat harapan.
Setiap hari, sekitar 150 ton sampah akan diberangkatkan menuju TPS Benowo, Surabaya—sebuah titik di mana limbah tak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan awal dari energi baru.
Kebijakan ini menjadi bagian dari program waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik yang tengah dikembangkan di Jawa Timur.
Di balik angka-angka itu, tersimpan upaya panjang untuk mengubah cara pandang terhadap sampah: dari beban lingkungan menjadi sumber daya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Arif Mulyono, menjelaskan bahwa program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jawa Timur akan dipusatkan di dua kawasan besar: Surabaya Raya dan Malang Raya.
Untuk kawasan Surabaya Raya, TPS Benowo diproyeksikan menjadi episentrum, dengan kebutuhan pasokan mencapai 1.100 ton sampah setiap hari.
Kebutuhan besar itu akan dipenuhi secara gotong royong lintas daerah. Kota Surabaya menyumbang porsi terbesar dengan 600 ton per hari. Disusul Kabupaten Gresik 250 ton, Kabupaten Lamongan 100 ton, dan Sidoarjo dengan 150 ton per hari.
Dalam peta kontribusi ini, Sidoarjo mungkin bukan yang terbesar, tetapi perannya tetap signifikan—seperti potongan kecil yang menentukan utuhnya sebuah sistem.
Bagi Sidoarjo, angka 150 ton bukanlah beban yang memberatkan. Setiap hari, wilayah ini menghasilkan sekitar 500 hingga 600 ton sampah dari berbagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Artinya, sebagian sampah yang selama ini menumpuk kini bisa dialihkan menjadi sumber energi.
Namun manfaatnya tak berhenti di sana. Di balik keputusan mengirim sampah ke TPS Benowo, terselip kepentingan yang lebih dekat dengan kehidupan warga: memperpanjang usia TPA.
Jika sebelumnya daya tampung TPA diperkirakan hanya bertahan lima tahun, kini harapan itu bisa dilipatgandakan hingga satu dekade.
Secara teknis, pengiriman akan dilakukan melalui titik-titik pengumpulan terdekat seperti TPS Krian, TPS Waru, dan TPS Taman.
Dari sana, sampah akan menempuh perjalanan menuju Benowo—perjalanan yang mungkin tak pernah disadari banyak orang, tetapi diam-diam menentukan kualitas lingkungan di masa depan.
Di ujung cerita ini, sampah tak lagi sekadar sisa. Ia menjadi bagian dari narasi yang lebih besar: tentang kota yang belajar mengelola dirinya, tentang pemerintah yang mencari jalan keluar, dan tentang kemungkinan bahwa dari sesuatu yang kerap dianggap tak berguna, justru lahir energi untuk kehidupan. (anto)

























