Tadarus puisi bertajuk “Ramadhan: Sebuah Perjalanan Spiritual Menuju Pribadi yang Lebih Baik.” Tiga santri pesantren Al Hamdaniyah baca puisi usai shalat tarawih dan baca Kitab Kuning.

bongkah.id – Forum Deklamator Jawa Timur (FDJT) menggelar Tadarus Puisi di pesantren tertua di Jawa Timur, Pesantren Al Hamdaniyah Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo, Sabtu (28/2/2026).

Santri dan anggota FDJT bergantian membaca, menyimak, dan menghayati puisi dalam suasana khidmat, menyerupai tradisi tadarus Al-Qur’an di bulan suci.

ads

Jika tadarus Al-Qur’an berfokus pada tilawah dan pemahaman ayat-ayat suci, maka tadarus puisi menghadirkan larik-larik sastra sebagai medium perenungan dan refleksi makna kehidupan.

“Tadarus puisi ini adalah proses berbagi rasa, tafsir, dan pengalaman batin. Ini ikhtiar spiritual agar sastra tidak hanya menjadi ekspresi estetik, tetapi juga jalan etis dan religius,” ujar Ketua FDJT, Zabid WS.

Malam itu, tadarus puisi menjadi pertemuan kesusastraan dan spiritualitas, ruang di mana kata-kata tidak berhenti sebagai bunyi, melainkan tumbuh menjadi kesadaran.

Pimpinan pesantren, KH. M. Hasyim Fahrurrozi, mengisahkan jejak dakwah ayahnya, almarhum Romo Kyai Hamdani.

Ia membuka cerita di tahun 1787, ketika kawasan Siwalanpanji masih berupa rawa-rawa dan jalan setapak lebih sering dilalui angin ketimbang manusia. Kala itu, seorang pendakwah dari Pasuruan datang tanpa pekik takbir dan tanpa tangan terkepal.

Ia menapaki lumpur dengan kesabaran, membawa ajaran melalui tembang, laku, dan pendekatan budaya.

Metode dakwahnya mengikuti jejak Walisongo: menyentuh hati lewat kebudayaan, bukan menggetarkan udara dengan slogan.

Ia mendirikan gutekan—kamar panggung sederhana—sebagai ruang mengaji dan bermusyawarah. Bangunan itu masih berdiri hingga kini, kokoh seperti nilai yang ditanamkan: Islam yang merangkul, bukan memukul.

“Malam ini adalah perjumpaan dua zaman: 1787 dan 2026. Jika dahulu dakwah disampaikan lewat tembang dan laku budaya, malam ini menjelma menjadi puisi,” ungkap Gus Hasyim sapaan KH. M. Hasyim Fahrurrozi.

Tadarus puisi pun mengalir hangat di tengah hujan yang menetes di atap musholla. Fathur ER, anggota FDJT, membuka pembacaan dengan dua puisinya, “Dzikir Sebutir Debu” dan “Pasukan Kuda Jantan.”

Disusul anggota FDJT yang sebagian merupakan juara baca puisi Jawa Timur era 1990 hingga awal 2000-an, yakni Misdi, Bagus S, Rivnos, Eko Tjahyono, Yusril, dan Satria, tampil bergantian.

Tiga santri pesantren juga turut membaca karya dengan suara lembut namun mantap.

Kata-kata malam itu mengalir seperti doa yang disamarkan menjadi metafora. Santri dan seniman duduk sejajar, tanpa sekat, menyatu dalam larik-larik yang menghadirkan kesadaran baru tentang iman, kemanusiaan, dan keindahan.

Di bawah rintik hujan Ramadhan, musholla pesantren menjadi saksi bahwa dakwah budaya tetap menemukan jalannya.

Dari rawa-rawa abad ke-18 hingga panggung puisi abad ke-21, pesan yang disampaikan tetap sama: spiritualitas dapat tumbuh lewat kelembutan, dan sastra dapat menjadi jembatan menuju kedewasaan batin. (anto)

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini