Museum Seni Budaya Narotama yang dibangun atas kepedulian menjaga jati diri Sidoarjo.

bongkah.id – Di tengah derasnya arus informasi digital, Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) memilih kembali ke akar: merawat ingatan dan menjaga napas panjang kebudayaan lokal Sidoarjo.

Ikhtiar itu mewujud lewat pendirian Museum Seni Budaya Narotama yang soft openingnya digelar pada Jumat (12/9/2025). Ia menempati lahan belakang kompleks halaman Dekesda, Jalan Airlangga 7, Sidoarjo.

ads

Museum itu dirancang sebagai ruang hidup, ruang tempat artefak, ruang belajar alternatif bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk mengenali kembali jati diri melalui jejak sejarah serta ekspresi seni budaya Sidoarjo.

Ketua Dekesda, Ribut Wiyoto, menyebutnya sebagai sarana pembelajaran luar ruang yang akrab dan membumi.

“Museum ini bukan proyek besar, tetapi dibangun atas nama kepedulian,” ujarnya, merangkum semangat kolektif yang melahirkannya.

Koleksinya menghadirkan replika yang merepresentasikan identitas seni budaya Sidoarjo, baik yang tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) maupun yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Koleksi WBTB adalah Reog Cemandi dari Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, sebuah kesenian tradisi yang berakar pada spiritualitas sekaligus menyimpan jejak perlawanan terhadap kolonialisme pada awal abad ke-20.

Juga aksesoris rias Baju Pengantin Putri Jenggala, yang menjadi simpul penting perjalanan sejarah Sidoarjo.

Koleksi lainnya adalah Wayang Kulit Gagrag Porongan, serta atribut penari remo Munali Patah era 1960-an, seperti keris, selendang, gongseng, dan udeng pacul gowang yang bukan sekadar properti pertunjukan, melainkan penanda dedikasi panjang tradisi tari remo khas Munali Patah.

Tak ketinggalan, pernik-pernik Tari Buri Bandeng, Tari Keris Ronjot, dan Tari Banjar Kemuning turut ditampilkan sebagai cermin dinamika budaya pesisir dan agraris yang terus tumbuh dan beradaptasi di tengah perubahan zaman. Setiap koleksi membawa cerita, dan setiap cerita menyambungkan masa lalu dengan masa kini.

Berbeda dari museum besar yang lahir dari anggaran melimpah, Museum Narotama tumbuh dari gotong royong masyarakat.

Dana awalnya sumbangan dari dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) sebesar Rp10 juta, kontribusi internal Dekesda Rp1,5 juta, komunitas seni budaya Rp500 ribu, dukungan anggota DPR RI Puti Guntur Soekarno sebesar Rp3 juta, serta Reni Astuti Rp2 juta. Selebihnya adalah kerja sukarela, waktu, dan kecintaan pada kebudayaan.

Nama “Narotama” sendiri dipilih sebagai penghormatan kepada Prabu Airlangga, Raja Kahuripan yang dikenal bukan hanya karena strategi politik dan militernya, tetapi juga perhatiannya pada ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Melalui nama itu, Dekesda menyematkan harapan agar museum ini menjadi rumah ide, ruang diskusi, dan tempat imajinasi seni budaya lintas generasi.

Kepala Museum Narotama, Rizky Hari Pangayom, mengakui pihaknya belum dapat menjadwalkan grand opening karena koleksi masih terus dilengkapi.

Namun dari sisi keamanan, telah dipasang pintu besi dan jendela kaca. “Masih berharap ada bantuan untuk pengadaan penyejuk ruangan AC agar koleksi tetap terjaga dari kerusakan,” katanya, Minggu (1/3/2026).

Anggota DPR RI, Puti Guntur Soekarno, saat soft opening Museum Narotama di Dekesda, Jumat (12/9/2025).

Saat meninjau museum, Puti Guntur Soekarno menegaskan bahwa kekayaan bangsa tidak semata-mata bertumpu pada sumber daya mineral.

“Emas, batu bara, dan gas alam bisa habis, tetapi seni dan budaya tidak. Ia dapat diwariskan lintas generasi, bahkan menjadi sumber devisa yang berkelanjutan,” kata Puti pada soft opening 12 September 2025.

Museum Seni Budaya Narotama menjadi penanda bahwa di Sidoarjo, ingatan dan identitas tidak dibiarkan larut oleh zaman.

Ia disimpan, dirawat, dan dibagikan kembali. Bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk dihidupkan, agar generasi mendatang tetap memiliki pijakan saat melangkah ke masa depan. (anto)

17

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini