Warga Sidoarjo menyatukan harapan dan kegelisahannya di ruang dialog refleksi akhir tahun.

bongkah.id – Sudut kota Sidoarjo di malam menjelang pergantian tahun 2025 tidak diisi dengan hitung mundur atau pesta kembang api. Di Caffe Pawon Cinday 94, suara yang terdengar justru percakapan panjang tentang harapan, kegelisahan, dan masa depan Sidoarjo.

Di antara aroma kopi dan kepulan asap rokok, warga dari berbagai latar belakang duduk sejajar, menyatukan pikiran dalam sebuah refleksi pada Selasa (30/12/2025) lalu.

ads

WhatsApp Grup Ruang Publik Sidoarjo (RPS) kembali menginisiasi forum refleksi akhir tahun bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025: Harapan Masyarakat Sidoarjo pada Pemimpin”. Bagi mereka, ruang diskusi tak harus selalu formal, yang terpenting adalah kejujuran suara yang disampaikan.

Forum ini diprakarsai oleh Sujani, S.Sos, tokoh masyarakat yang dikenal luas dengan julukan “Bupati Swasta” sekaligus Ketua Grup RPS. Malam itu, ia membuka diskusi dengan satu pesan sederhana: rakyat perlu ruang untuk didengar, dan pemimpin perlu keberanian untuk mendengar.

“Ini bukan sekadar acara seremonial,” ujar Sujani. “Ini ruang bersama, tempat aspirasi masyarakat dirangkum dan disuarakan. Harapannya, pemimpin ke depan bisa bekerja transparan dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat.” ujarnya bersemangat.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, refleksi kali ini terasa lebih berwarna. Jika sebelumnya hanya melibatkan anggota internal RPS, tahun ini panitia membuka pintu selebar-lebarnya. Ketua partai politik, pimpinan LSM, ormas, komunitas, jurnalis, hingga berbagai paguyuban hadir, membentuk mozaik sosial Sidoarjo dalam satu meja dialog.

Sujani menyebut kegiatan ini telah memasuki tahun ketiga. Namun, momentum kali ini dinilai lebih penting karena banyak catatan yang ingin disampaikan langsung kepada Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo. Menurutnya, aspirasi warga sering kali tercecer ketika disampaikan secara terpisah.

“Banyak uneg-uneg yang tidak pernah benar-benar sampai atau kurang diperhatikan. Maka malam ini kami kumpulkan semuanya, supaya suaranya lebih kuat dan tidak diabaikan,” kata pria yang akrab disapa Buwas itu usai acara.

Ia menegaskan, persoalan di Sidoarjo tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah. Kompleksitas masalah sosial, ekonomi, hingga infrastruktur membutuhkan keterlibatan semua pihak.

“Permasalahan Sidoarjo tidak akan selesai hanya oleh bupati dan wakil bupati. Semua elemen masyarakat harus ikut memberi sumbangsih terbaik,” tuturnya kepada awak media.

Di tengah diskusi yang mengalir, suara pengingat juga datang dari wakil rakyat. Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur dari Fraksi Golkar, Adam Rusadi, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal janji politik kepala daerah. Ia menyebut ada 14 program yang pernah dijanjikan Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo yang harus direalisasikan.

“Kami akan terus mengingatkan pemerintah daerah. Janji kampanye bukan sekadar slogan, tapi harus diwujudkan agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Adam.

Sementara itu, dari unsur partai politik lainnya, perwakilan Partai Demokrat Harjo Pria—akrab disapa Cak Jo—menyoroti pentingnya harmoni di pucuk kepemimpinan daerah. Baginya, pembangunan hanya bisa berjalan cepat jika para pemangku kebijakan berjalan seirama.

“Kami ingin melihat Bupati, Wakil Bupati, dan DPRD kembali kompak. Kalau solid, pembangunan akan lebih mudah dijalankan dan hasilnya bisa segera dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Malam kian larut, tetapi diskusi belum kehilangan denyutnya. Dari sebuah kafe sederhana, suara-suara warga berusaha menembus batas ruang dan jabatan. RPS, kata Sujani, akan terus menjaga api itu tetap menyala.

“Kami akan tetap istiqomah, mengabdi, dan mengawal kepentingan masyarakat. Untuk Sidoarjo yang lebih baik dan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya. (anto)

9

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini