‎Marsinah lahir di Nglundo, Nganjuk, dari keluarga sederhana

bongkah.id – Dua belas tuntutan buruh PT Catur Putra Surya Porong pada Mei 1993 seharusnya menjadi bagian biasa dari dinamika industrial. Tapi bagi Marsinah, seorang buruh perempuan berusia 24 tahun, perjuangan untuk menegakkan upah layak justru menjadi jalan menuju kematian.

‎Marsinah lahir di Nglundo, Nganjuk, dari keluarga sederhana. Ia yatim piatu sejak usia dini. Tumbuh dalam kemiskinan, membantu neneknya berdagang kecil-kecilan.

‎Setelah menamatkan SMP, ia berjuang mencari pekerjaan hingga diterima di pabrik jam tangan Catur Putra Surya, Sidoarjo. Dari sinilah kisah heroiknya dimulai.

‎Awal 1993, Gubernur Jawa Timur, Soelarso mengeluarkan edaran menaikkan upah 20 persen. Namun pihak perusahaan menolak menerapkannya.

‎Marsinah tampil sebagai juru bicara pekerja, menegosiasikan hak yang dijanjikan pemerintah. Dalam rapat-rapat dan unjuk rasa, ia berbicara dengan keyakinan yang menular, “Kami bukan musuh negara, kami hanya menuntut keadilan.”

‎Pada 5 Mei 1993, setelah sejumlah rekan buruh digelandang ke Kodim Sidoarjo, Marsinah mendatangi markas militer itu seorang diri untuk menanyakan keberadaan teman-temannya.

‎Itu terakhir kali ia terlihat hidup. Empat hari kemudian, jasadnya ditemukan di hutan Wilangan, Nganjuk. Tubuhnya penuh luka penyiksaan.

‎Kasus pembunuhannya mengguncang Indonesia dan dunia internasional. Namun proses hukum tak pernah menyingkap kebenaran sepenuhnya. Banyak pihak meyakini aparat militer terlibat langsung, tapi tidak seorang pun dihukum.

‎Kematian Marsinah tidak memadamkan perjuangan, justru menyalakan api solidaritas buruh di seluruh negeri. Gerakan Komite Solidaritas untuk Marsinah (KSUM) dibentuk oleh lebih dari 20 LSM dan aktivis hak asasi manusia, termasuk Munir muda yang kemudian dikenal sebagai pejuang HAM.

‎Marsinah menjadi ikon perjuangan buruh perempuan Indonesia. Simbol keberanian, kejujuran, dan keteguhan hati. Ia telah lama diakui secara moral sebagai pahlawan rakyat, jauh sebelum negara mengakuinya secara resmi.

‎Kini, setelah lebih dari tiga dekade, negara akhirnya menundukkan kepala memberi hormat. Pada Hari Pahlawan 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional.

‎Penghargaan itu bukan hanya untuk dirinya tapi untuk seluruh buruh yang berjuang di bawah tekanan. Mereka yang tidak dikenal, tidak diliput, tapi bekerja dengan hati dan martabat.

‎Marsinah telah pergi, namun namanya menjadi mercusuar moral bagi generasi pekerja Indonesia. Ia mati bukan karena kalah melainkan karena terlalu berani memperjuangkan kebenaran di hadapan kekuasaan.

‎“Marsinah tidak mati,” kata seorang aktivis buruh di Nganjuk, “ia hanya berganti wujud menjadi semangat yang menolak diam.” (kim)

40

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini