
Bongkah.id – Setiap tahun, pelaksanaan SPMB di Kabupaten Jombang selalu memunculkan cerita lama yang seolah tak kunjung selesai. Sistem yang semestinya transparan justru kerap diwarnai isu titipan siswa, penyalahgunaan zonasi, hingga kecurigaan permainan oknum tak bertanggung jawab.
Wakil Ketua DPRD Jombang, Syarif Hidayatullah yang akrab disapa Gus Sentot, angkat bicara soal polemik yang terjadi pada akhir-akhir ini, SPMB di SDN Kepanjen 2.
Ia menegaskan perlunya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Jombang agar kisruh PPDB tidak terulang setiap tahun.
“Saya berharap ini jadi atensi khusus untuk Pemerintah Kabupaten Jombang untuk menindaklanjuti hal ini. Teman-teman saya di Komisi D harus segera mengambil langkah dengan memanggil Dinas Pendidikan untuk klarifikasi,” tegas Gus Sentot, Senin (7/7/2025).
Menurutnya, praktik-praktik yang menciderai keadilan sistem zonasi harus dihentikan. Gus Sentot menyoroti masih ditemukannya siswa dari luar zona yang diterima dengan cara-cara mencurigakan.
“Sekarang zamannya transparansi. Kalau memang skala prioritas zonasi itu dekat, tapi yang jemput pulang sekolah mobil-mobil mewah dari jauh, kan aneh,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa praktik titipan tidak hanya merugikan siswa yang benar-benar berhak, tetapi juga merusak kepercayaan publik pada pemerintah daerah.
Gus Sentot mendesak agar Dinas Pendidikan segera memberi penjelasan sejauh mana persoalan ini diusut, termasuk kemungkinan keterlibatan oknum.
Bagi para wali murid yang merasa dirugikan, Gus Sentot mempersilakan menempuh jalur hukum jika diperlukan. “Kalau mau pakai jalur perdata, itu hak mereka. Tapi saya berharap semuanya diselesaikan secara baik, jangan sampai gaduh yang merugikan anak-anak kita,” tambahnya.
Harapan besar kini tertuju pada Komisi D DPRD Jombang dan Dinas Pendidikan. Akankah tahun depan drama PPDB bisa benar-benar bersih dari carut marut tahunan? Waktu dan komitmen menjadi jawabannya.
Diberitakan sebelumnya, pada akhir Juni lalu, di balik pagar hijau SD Negeri Kepanjen 2 Jombang, langkah Hartono terhenti di depan ruang pendaftaran. Pria paruh baya ini datang membawa berkas keponakannya, anak laki-laki yang menjadi harapan keluarganya untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri favorit di Kabupaten Jombang.
Namun, pintu pendaftaran sudah tertutup rapat. Hartono hanya bisa menatap papan pengumuman yang berdiri kaku di sudut halaman sekolah. Padahal, menurut petunjuk teknis resmi, jadwal penerimaan murid baru untuk jenjang sekolah dasar di Jombang seharusnya berlangsung dari 19 Mei hingga 30 Juni, dengan pengumuman hasil seleksi pada 8 Juli mendatang. Kenyataannya, harapan Hartono berakhir lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Di SD Negeri Kepanjen 2, pendaftaran ternyata ditutup pada 29 Juni. Hartono, yang baru sempat datang pada 26 Juni, terpaksa menelan kecewa ketika pihak sekolah menolak berkasnya. “Kamis kita konfirmasi ke Dinas Pendidikan perihal jalur mutasi apakah swasta bisa dan dijawab bisa,” kata Hartono
(Ima/sip)



























